Kehidupan Dari Sang Entah, Menuju Sang Entah
DOI:
https://doi.org/10.47900/nptrs.v1i1.5Abstrak
Mengenai surga, hal yang ditekankan oleh kitab suci terutama adalah kondisi berelasi dengan Allah secara erat dan benar, dalam damai sejahtera yang tidak terlukiskan, di mana pun dan kapan pun. Kehidupan dalam relasi dengan Allah secara erat dan benar, sesungguhnya melampaui ruang dan waktu, sekalipun dapat dirasakan dalam ruang dan waktu. Sebaliknya, neraka adalah kondisi dan situasi di luar relasi secara benar dengan Allah, yang termanifestasi dalam bentuk keterasingan, penderitaan, ketersisihan, dan ketiadaan damai sejahtera. Kondisi seperti ini pun tidak dibatasi dalam pengertian ruang dan waktu, sekalipun juga mewujud dalam kehidupan dalam dimensi ruang dan waktuReferensi
Brewer, Kent E., dan Mark W. Elliot. Eschatology in Bible & Theology. Downers Grove: IVP, 1999.
Casey, John. After Lives: A Guide to Heaven, Hell & Purgatory. Oxford: Oxford University Press, 2009.
Jacobs, Tom. Paulus: Hidup, Karya dan Teologinya. Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Peters, Ted, Roberts John Russel, dan Michael Welker, peny., Resurrection: Theological Scientific Assesments. Grand Rapids: Eerdmans, 2002.
Segal, Alan F. Life After Death: A History of the Afierlife in Western Religion. New York: Doubleday, 2004.
Setzer, Claudia. Resurrection of the Body in Early Judaism and Early Christianity. Leiden: Brill, 2004.
Wong, Kevin Juwono. “Gehenna: Suatu Alienasi Subjek” dalam Jurnal Teologi Sola Experientia, Vol. 2, No. 1, April 2014.
Wright, N. T. Jesus and the Vzctory of God. London: SPCK, 1996.






